Kekalahan itu Tidak Memalukan, yang Memalukan itu Menyerah


Itulah pesan yang Liliyana Natsir berikan kepada juniornya selama upacara perpisahan sebelum saat dia pensiun terhadap Januari. Perpisahan adalah akhir berasal dari 24 tahun karir bulutangkisnya. Karena orang yang menjelaskan vonis itu adalah juara dunia dan peraih medali emas Olimpiade, pesan itu sepertinya miliki kebolehan sendiri. Yang datang di Istora terhadap saat itu kemungkinan pasti terguncang oleh pesan Ci Butet. Ya, kekalahan bukanlah penyerahan yang memalukan, memalukan. Dalam arti kata dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata kekalahan dan penyerahan miliki arti yang terlampau berbeda. Saya teringat akan salah satu postingan penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Bunyinya seperti ini: “Setiap prajurit sanggup kalah dan tetap kalah tanpa kemenangan, dan kekalahan ini adalah guru yang terlampau mahal untuk dibayar. Tetapi apalagi kecuali ia kalah, selama seseorang sanggup disebut prajurit, ia tidak akan menyerah. Orang Indonesia cukup kaya untuk membedakan pada yang kalah dan yang tidak menyerah. “, Pesan berasal dari Liliyana Natsir dan Pramoedya Ananta Toer adalah impuls perjuangan Kevin Sanjaya Sukamuljo. Tampaknya tidak tersedia pengagum bulu tangkis yang tidak mengenal Kevin yang apalagi berusia 24 tahun. Di badminton, Kevin bukan cuma pemain nomer 1 di dunia bersama lusinan gelar. Dia layak disebut superstar. Para pengagum tidak cuma mendambakan lihat permainan serba cepat, yang disebut “tangan petir” warga. Mereka termasuk kehilangan tingkah laku lebih baik yang kerap ditunjukkan Kevin di lapangan.

Tetapi siapa yang menyangka bahwa Kevin sudah mengalami pakai surut karier bulu tangkis perintisnya yang awal. Dia sudah lihat episode penolakan, kegagalan, dan kekalahan. Berkat kebolehan bertarungnya yang super, dia akhirnya sanggup seperti ini. Ya, tersedia banyak referensi yang menceritakan tentang perjuangan dan pakai surut Kevin Sanjaya dalam membangun karier bulutangkisnya. Dari yang dijatuhi hukuman gagal dan diremehkan hingga berhasil menaklukkan dunia bulu tangkis seperti sekarang ini. Kuncinya adalah asumsi yang tidak bergerak. Mulai mengenali bulutangkis terhadap umur 2,5 karena tersedia lapangan bulutangkis di belakang rumahnya, sehingga punya kebiasaan lihat tetangganya bermain, Kevin tidak diterima kala ia coba PB Djarum. Sejak 2006, audisi sudah berlangsung di klub bulutangkis terkenal di Indonesia.

Bagaimanapun, kendati ia dinyatakan gagal, ia bermain lahir terhadap 2 Agustus 1995, tetapi tidak menyerah. Bahkan, dia makin lama banyak melemparkan dirinya untuk berlatih lebih keras. Bahkan tidak biasa untuk tingkatkan jam latihan. Dia termasuk lulus audisi PB Djarum terhadap tahun 2007 kala dia berusia 12 tahun. Masuk ke PB Djarum, jalur Kevin belum pasti mudah. Dia mesti berkompetisi bersama pemain lain. Telah lihat serangkaian episode yang hilang, tetapi bersama pikirannya yang kuat ia sanggup memamerkan keahliannya. Kevin akhirnya dipilih untuk Cipayung Pelatnas. Melatih impuls yang kuat dan kuat kala baja menjadi kemauan paling penting Kevin. Itu sebabnya Kevin sekarang lihat penampilan tanpa rasa risau di lapangan dan itu sudah lahir sejak ia masih kecil.

Yang cukup menarik, Kevin van Pelatnas tidak segera bermain di sektor ganda putra. Untuk jadi dengan, ia bermain tunggal daripada pria. Kemudian diubah menjadi sektor ganda. Bahkan lantas ia bermain di ganda putra dan ganda campuran. Dia apalagi tidak nyaman. Tetapi apalagi pergantian peran itu senantiasa hidup. Pada 2011, Kevin muncul di final pertamanya di BWF International Challenge Tournament. Ia mengakses bersama Lukhi Apri Nugroho. Yang cukup menarik, lawan-lawannya Marcus Gideon dan Agripina Pamungkas, yang menang. Kita paham bahwa Marcus lantas menjadi mitra yang sama Kevin. Pada 2012 Kevin muncul di Kejuaraan Asia Asia di Korea. Ia mengakses bersama Alfian Eko Prasetya. Duet ini menghasilkan medali perunggu.

Setahun lantas dia muncul di kejuaraan junior di ganda campuran bersama Masita Mahmudin. Duet ini memenangkan medali perak. Sebelumnya, terhadap tahun yang sama, ia termasuk bermain di Kejuaraan Pemuda Asia di nomer ganda putra bersama Arya Maulana. Mereka berhenti di semi final dan terima perunggu. Lawannya adalah ganda Tiongkok, Li Jinhui / Liu Yuchen, yang sekarang menjadi musuh mematikan Kevin dan Marcus. Pada 2014 ia berkolaborasi bersama Stevanus Geh di ganda putra dan memenangkan sebagian gelar. Yaitu Vietnam Internasional dan Bulgaria Internasional dan Selandia Baru Terbuka. Kevin lantas dikaitkan bersama Marcus Gideon terhadap 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top